<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Seribu Kata</title>
	<atom:link href="http://www.seribukata.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.seribukata.com</link>
	<description>Photography, Multimedia, Visual Journalism</description>
	<lastBuildDate>Wed, 10 Apr 2013 06:15:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Henri Cartier-Bresson AWARD 2013</title>
		<link>http://www.seribukata.com/2013/04/henri-cartier-bresson-award-2013/</link>
		<comments>http://www.seribukata.com/2013/04/henri-cartier-bresson-award-2013/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Apr 2013 06:05:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Seribu Kata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Contests & Grants]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.seribukata.com/?p=1481</guid>
		<description><![CDATA[Presented by the Fondation Henri Cartier-Bresson, the HCB Award is a prize to stimulate a photographer’s creativity by offering the opportunity to carry out a project that would otherwise be difficult to achieve. &#160; It is intended for photographers who have already completed a significant body of work, a talented photographer in the emerging phase [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1482" alt="HCB" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2013/04/HCB.jpg" width="200" height="117" /></p>
<p>Presented by the Fondation Henri Cartier-Bresson, the HCB Award is a prize to stimulate a photographer’s creativity by offering the opportunity to carry out a project that would otherwise be difficult to achieve.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>It is intended for photographers who have already completed a significant body of work, a talented photographer in the emerging phase of his or her career with an approach close to that of documentary. Candidates should be nominated by an institution (museum, gallery, independent curator, publisher…).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The prize is indivisible: 35, 000 Euros that is awarded every other year.</p>
<p>Eighteen months after the reception of the prize, the winner will have an exhibition of his work at the Fondation HCB in Paris and a catalogue will be published.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The HCB Award is made possible with the partnership of the Fondation d’entreprise Hermès.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Calendar </b></p>
<p>- February 2013: applications available online</p>
<p>- March 1st – April 30th, 2013, return of applications to the Foundation.</p>
<p>- 10th and 11th June 2013, selection of the prize-winner.</p>
<p>- June 25th 2013: prize-giving ceremony</p>
<p>- July 2013, return of applications to the candidates</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>more info : http://www.henricartierbresson.org/prix/ressources/HCB_AWARD_2013_EN.pdf</p>
<p>&nbsp;</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><img alt="" src="http://www.abc.net.au/reslib/201109/r825659_7535679.jpg" width="600" height="309" /><p class="wp-caption-text">Henri Cartier-Bresson</p></div>
<blockquote class="twitter-tweet"><p>REDD+for Food Photo Contest (Deadline: 25 April 2013) <a href="http://t.co/jzKjVCPGLr" title="http://www.fao.org/forestry/food-security/photocontest/en/#.UWPoer8p8sp">fao.org/forestry/food-…</a></p>
<p>&mdash; Seribu Kata (@1000kata) <a href="https://twitter.com/1000kata/status/321565668443037696">April 9, 2013</a></p></blockquote>
<p><script async src="//platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<blockquote class="twitter-tweet"><p>RT @<a href="https://twitter.com/roni_az">roni_az</a>: Burn magazine calls for entries in Emerging Photographer Fund &#8211; BJP <a href="https://twitter.com/search/%23Photography">#Photography</a> <a href="https://twitter.com/search/%23photojournalism">#photojournalism</a>&#8230; <a href="http://t.co/KwWLBZ7Ep2" title="http://fb.me/A2afymhx">fb.me/A2afymhx</a></p>
<p>&mdash; Seribu Kata (@1000kata) <a href="https://twitter.com/1000kata/status/321094850172825600">April 8, 2013</a></p></blockquote>
<p><script async src="//platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.seribukata.com%2F2013%2F04%2Fhenri-cartier-bresson-award-2013%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.seribukata.com/2013/04/henri-cartier-bresson-award-2013/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sudahkah Fotografi Indonesia Merespon Perubahan?</title>
		<link>http://www.seribukata.com/2013/04/sudahkah-fotografi-indonesia-merespon-perubahan/</link>
		<comments>http://www.seribukata.com/2013/04/sudahkah-fotografi-indonesia-merespon-perubahan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Apr 2013 05:23:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mast Irham</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Oasis]]></category>
		<category><![CDATA[Photojournalism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.seribukata.com/?p=1456</guid>
		<description><![CDATA[“Kapan ada festival Budaya?” sebuah pertanyaan yang sering datang dan pergi di saat bertemu dengan komunitas fotografi atau penggiat fotografi. Lalu bermunculanlah situs-situs yang menawarkan sebuah eksotisme tempat dan festivalnya, kemudian berbondong-bondong datang untuk mencoba merekam sebuah eksotisme yang diimpikan itu ada. Dan dibarengi dengan lomba-lomba fotografi dengan hadiah yang menggiurkan yang menawarkan sebuah eksotisme [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1457" class="wp-caption aligncenter" style="width: 1510px"><a href="http://www.seribukata.com/2013/04/sudahkah-fotografi-indonesia-merespon-perubahan/foto-rony-zakaria-tentang-jakarta-dalam-proyek-fotonya-encounter/" rel="attachment wp-att-1457"><img class="size-full wp-image-1457" title="Foto: Rony Zakaria Tentang Jakarta Dalam Proyek fotonya Encounter" alt="" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2013/04/jakarta_rz.jpg" width="1500" height="996" /></a><p class="wp-caption-text">Foto: Rony Zakaria Tentang Jakarta Dalam Proyek fotonya Encounter</p></div>
<p>“Kapan ada festival Budaya?” sebuah pertanyaan yang sering datang dan pergi di saat bertemu dengan komunitas fotografi atau penggiat fotografi. Lalu bermunculanlah situs-situs yang menawarkan sebuah eksotisme tempat dan festivalnya, kemudian berbondong-bondong datang untuk mencoba merekam sebuah eksotisme yang diimpikan itu ada. Dan dibarengi dengan lomba-lomba fotografi dengan hadiah yang menggiurkan yang menawarkan sebuah eksotisme lewat fotografi.</p>
<p>Fenomena semacam ini semakin lekat di era fotografi modern Indonesia, mendokumentasikan sebuah eksotisme artifisial yang ditawarkan dalam sebuah festival budaya. Sering dalam sebuah percakapan saya mendengar, “ooooo, acaranya sudah tidak asli lagi, kurang bagus buat foto, banyak spanduk sponsor di jalanan, sehingga terkesan peristiwanya tidak real” atau keluhan-keluhan lain yang serupa yang seolah-olah “masyarakat” dipaksa oleh para pembuat visual ini untuk tidak beranjak ke masa depan. Akhirnya muncullah imaji-imaji fotografi yang tersaji menawarkan foto yang tidak berubah dari masa ke masa secara konteksnya.</p>
<div id="attachment_1458" class="wp-caption aligncenter" style="width: 1510px"><a href="http://www.seribukata.com/2013/04/sudahkah-fotografi-indonesia-merespon-perubahan/foto-johanes-p-christo-dalam-proyek-fotonya-tentang-bali-hard-music/" rel="attachment wp-att-1458"><img class="size-full wp-image-1458" title="Foto: Johanes P. Christo Dalam Proyek fotonya tentang &quot;Bali Hard Music&quot;" alt="" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2013/04/Bali-Hard-Music_02.jpg" width="1500" height="1000" /></a><p class="wp-caption-text">Foto: Johanes P. Christo Dalam Proyek fotonya tentang &#8220;Bali Hard Music&#8221;</p></div>
<p>Sebuah pertanyaan kecil dari hati saya,”mengapa fotografi Indonesia sangat lekat dengan sebuah eksotisme?” Saya tidak akan mempertanyakan apabila sebuah karya fotografi itu dilakukan oleh orang non Indonesia, sepertinya akan sangat wajar melihat Indonesia menurut apa yang ada di pikiran mereka. Namun, itu akan menjadi pertanyaan besar bila masyarakat kita melihat budaya kita juga melihat permasalahan budaya dengan titik pandang yang tidak berbeda, dan sebagai obornya fotografi melakukan usaha untuk membekukan atau “stagnasi budaya” dalam masyarakat, dengan menyajikan visual yang cenderung sama dari masa ke masa.</p>
<p>Indonesia, adalah bagian dari masyarakat dunia yang sangat cepat mengalami perubahan besar seiring apa yang terjadi di dunia. Di kota-kota besar masyarakat urban terus mengalami perubahan yang begitu cepat, mall-mall beton tumbuh menghimpit kampung-kampung kecil dan sekitarnya, kota-kota kecil berlomba keras untuk merebut perhatian sebagai sebuah kota “metropolitan”, masyarakat dengan akar budaya yang ada selalu mengalami perubahan dari masa ke masa, namun sepertinya perubahan besar ini tidak dibarengi dengan banyak respon kritis Fotografi Indonesia dari segi konteksnya.</p>
<div id="attachment_1459" class="wp-caption aligncenter" style="width: 1010px"><a href="http://www.seribukata.com/2013/04/sudahkah-fotografi-indonesia-merespon-perubahan/foto-rino-anugrawan-dalam-proyek-fotonya-indo-cosplayer-di-kota-malang/" rel="attachment wp-att-1459"><img class="size-full wp-image-1459" title="Foto : Rino Anugrawan dalam Proyek Fotonya &quot;Indo cosplayer di Kota Malang&quot;" alt="" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2013/04/rino_cosplay713-copy.jpg" width="1000" height="1500" /></a><p class="wp-caption-text">Foto : Rino Anugrawan dalam Proyek Fotonya &#8220;Indo cosplayer di Kota Malang&#8221;</p></div>
<p>Terus terang ada perasaan iri dari diri saya setelah melihat sebuah buku tentang fotografi China kontemporer (Contemporary Chinese Photography, by Gu Zheng), yang lebih banyak menceritakan tentang perubahan besar atau transisi di China dan respon para fotografer dengan berbagai medium fotografinya yang cukup beragam mengkritisi perubahan yang terjadi. Sebuah buku yang membangunkan tidur saya, dan memimpikan sebuah masyarakat fotografi di Indonesia merekam dan merespon perubahan besar di masyarakatnya.  Kebangkitan fotografi dari era”New Documentary photography” ke arah “Conceptual Photography”. Fotografi sebagai alat rekam yang paling canggih benar-benar dipakai untuk mengeksplorasi ide dan pemikiran tentang China yang berubah.</p>
<p>Akankan kita akan terus mempertahankan masyarakat untuk tetap stagnan dengan memotret konteks budaya yang tidak berubah, atau dengan fotografi kita mencoba merespon perubahan besar yang terjadi di bangsa kita? Fotografi adalah sebuah proses memilih, mengapa kita dipaksa untuk tidak memilih?</p>
<div id="attachment_1460" class="wp-caption aligncenter" style="width: 1510px"><a href="http://www.seribukata.com/2013/04/sudahkah-fotografi-indonesia-merespon-perubahan/foto-kurniadi-widodo-yang-mencermati-tentang-yogyakarta-dan-perubahan-kotanya/" rel="attachment wp-att-1460"><img class="size-full wp-image-1460" title="Foto Kurniadi Widodo yang mencermati tentang Yogyakarta dan perubahan kotanya." alt="" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2013/04/WID_fringes_201111_9513.jpg" width="1500" height="1200" /></a><p class="wp-caption-text">Foto Kurniadi Widodo yang mencermati tentang Yogyakarta dan perubahan kotanya.</p></div>
<p>Fotografi adalah sarana paling canggih untuk menggambarkan kekinian tentang sebuah masa, dan imaji yang tersaji merupakan kajian yang menarik untuk melihat ke masa depan. Dari masa ke masa fotografi dipakai alat untuk penanda sebuah perubahan jaman, tidak hanya perubahan secara politik dan peristiwa, tetapi perubahan tentang masyarakat dan budayanya.</p>
<p>Tidak dapat dipungkiri, fotografi melalui media masa di Indonesia telah menunjukkan perubahan social politik dan budaya secara global, tetapi issu yang berkembang searah dengan arah politik yang berkembang, sedangkan respon kritis fotografi Indonesia secara umum tidak banyak merespons perkembangan besar yang terjadi di masyarakat secara umum, sepertinya kita abai terhadap perubahan-perubahan besar yang terjadi, ataukah memang fotografi Indonesia lebih tertarik dengan sebuah kebudayaan “stagnan” yang mereka ciptakan sendiri secara konteksnya?</p>
<p>Sebuah pepatah lama, dan tiba-tiba muncul saat ini juga, apakah kita akan juga “belajarlah ke negeri China untuk belajar fotografi?”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://www.seribukata.com/2013/04/sudahkah-fotografi-indonesia-merespon-perubahan/ep_profile02/" rel="attachment wp-att-1465"><img class="wp-image-1465 alignleft" style="border: 4px solid black;" title="ep_profile02" alt="" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2013/04/ep_profile02-125x125.jpg" width="125" height="125" /></a> Edy Purnomo/Fotografer Equator Images, Pengajar Panna Institute of Photography</p>
<blockquote class="twitter-tweet"><p>@<a href="https://twitter.com/ngindonesia">ngindonesia</a>: Ayo, unjuk kreasi lewat fotografi dalam <a href="https://twitter.com/search/%23LombaFotoAstra2013">#LombaFotoAstra2013</a> periode 11 Maret-11 Juni 2013. Info &#8230; <a href="http://t.co/ZH4jEWq6vA" title="http://tmi.me/RdaZ2">tmi.me/RdaZ2</a></p>
<p>&mdash; Seribu Kata (@1000kata) <a href="https://twitter.com/1000kata/status/320304199558639617">April 5, 2013</a></p></blockquote>
<p><script async src="//platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<blockquote class="twitter-tweet"><p>RT @<a href="https://twitter.com/roni_az">roni_az</a>: Burn magazine calls for entries in Emerging Photographer Fund &#8211; BJP <a href="https://twitter.com/search/%23Photography">#Photography</a> <a href="https://twitter.com/search/%23photojournalism">#photojournalism</a>&#8230; <a href="http://t.co/KwWLBZ7Ep2" title="http://fb.me/A2afymhx">fb.me/A2afymhx</a></p>
<p>&mdash; Seribu Kata (@1000kata) <a href="https://twitter.com/1000kata/status/321094850172825600">April 8, 2013</a></p></blockquote>
<p><script async src="//platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.seribukata.com%2F2013%2F04%2Fsudahkah-fotografi-indonesia-merespon-perubahan%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.seribukata.com/2013/04/sudahkah-fotografi-indonesia-merespon-perubahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ali Lutfi, Peraih 2nd Prize Singles World Press Photo 2013 Katagori Nature</title>
		<link>http://www.seribukata.com/2013/02/ali-lutfi-peraih-2nd-prize-singles-world-press-photo-2013-katagori-nature/</link>
		<comments>http://www.seribukata.com/2013/02/ali-lutfi-peraih-2nd-prize-singles-world-press-photo-2013-katagori-nature/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Feb 2013 14:30:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mast Irham</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Photographers]]></category>
		<category><![CDATA[Photojournalism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.seribukata.com/?p=1434</guid>
		<description><![CDATA[Sekali lagi, pewarta foto Indonesia meraih penghargaan dunia dalam ajang bergengsi World Press Photo 2013. Kali ini adalah Ali Lutfi, seorang pewarta foto koresponden untuk harian berbahasa Inggris Jakarta Globe di Solo, Jawa Tengah. Lutfi, begitu Ia biasa dipanggil, berhasil menyabet penghargaan World Press Photo peringkat ke-2 single foto dalam katagori Nature. &#8220;Tenane (yang benar) [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1436" class="wp-caption aligncenter" style="width: 910px"><a href="http://www.seribukata.com/2013/02/ali-lutfi-peraih-2nd-prize-singles-world-press-photo-2013-katagori-nature/mimin-wearing-mask-made-from-unused-dolls-2/" rel="attachment wp-att-1436"><img class="size-full wp-image-1436 " title="Mimin wearing mask made from unused dolls" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2013/02/mimin11.jpg" alt="" width="900" height="598" /></a><p class="wp-caption-text">One of the monkeys trained to entertain motorists along busy intersections in Solo, Central Java.</p></div>
<p>Sekali lagi, pewarta foto Indonesia meraih penghargaan dunia dalam ajang bergengsi World Press Photo 2013. Kali ini adalah Ali Lutfi, seorang pewarta foto koresponden untuk harian berbahasa Inggris Jakarta Globe di Solo, Jawa Tengah. Lutfi, begitu Ia biasa dipanggil, berhasil menyabet penghargaan World Press Photo peringkat ke-2 single foto dalam katagori Nature.</p>
<p>&#8220;<em>Tenane</em> (yang benar) ??&#8221; tanya Ali Lutfi dalam bahasa Jawa ketika Seribukata mengucapkan selamat atas kemenangannya. Lutfi ternyata belum mendengar berita gembira tersebut.</p>
<p>&#8220;Luar biasa, saya sempat terdiam dan tidak percaya,&#8221; ujar Lutfi mengungkapkan perasaannya. Lutfi tidak menyangka fotonya terpilih sebagai salah satu foto terbaik tahun 2012 dari 103.481 foto karya 5.666 fotografer yang dilombakan dalam kontes World Press Photo 2013.</p>
<p>Foto berjudul &#8216;Mimin&#8217; dibuat pewarta foto kelahiran Boyolali ini sebagai bagian foto cerita tentang pertunjukan topeng monyet. Foto itu menggambarkan seekor monyet ekor panjang memakai pakaian dan topeng boneka yang sedang berdiri di samping sang pawang. Sebuah gambar yang barangkali sederhana dan sangat akrab dengan mata kita orang Indonesia, namun sarat makna dan cerita di baliknya.</p>
<p>&#8220;Topeng monyet sangat unik dan menghibur, tapi di balik keceriaan itu ada kepiluan. Binatang yang seharusnya hidup bebas harus dilatih dengan keras untuk mengikuti tingkah laku manusia,&#8221;  ujar  Lutfi. &#8220;Juga ada masalah ekonomi yang melatar belakangi sang pawang untuk menjalani pekerjaan tersebut,&#8221;  tambahnya.</p>
<p>Keberhasilan Lutfi, menyabet penghargaan dari World Press Photo merupakan bukti bahwa karya foto para pewarta foto Indonesia juga bisa berbicara di kancah internasional. Selamat buat Ali Lutfi, semoga bisa menjadi inspirasi pewarta-pewarta foto Indonesia yang lain.</p>
<p>Pemenang World Press Photo 2013 selengkapnya:  http://www.worldpressphoto.org/awards/2013</p>
<p><a href="http://www.seribukata.com/2013/02/ali-lutfi-peraih-2nd-prize-singles-world-press-photo-2013-katagori-nature/lutfi1/" rel="attachment wp-att-1438"><img class="alignleft  wp-image-1438" style="border: 5px solid white;" title="lutfi1" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2013/02/lutfi1-125x125.jpg" alt="" width="125" height="125" /></a></p>
<p>Ali Lutfi, lahir di Boyolali, 17 Juli 1976. Pernah bekerja sebagai pewarta foto dan editor foto di Harian Solopos, sebelum kemudian memutuskan <em>freelance</em> pada tahun 2007. Pada 2009 hingga sekarang bergabung sebagai kontributor foto untuk harian Jakarta Globe.</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.seribukata.com%2F2013%2F02%2Fali-lutfi-peraih-2nd-prize-singles-world-press-photo-2013-katagori-nature%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.seribukata.com/2013/02/ali-lutfi-peraih-2nd-prize-singles-world-press-photo-2013-katagori-nature/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Haji dan &#8216;Galau&#8217; Fotografi</title>
		<link>http://www.seribukata.com/2012/11/haji-dan-galau-fotografi/</link>
		<comments>http://www.seribukata.com/2012/11/haji-dan-galau-fotografi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Nov 2012 07:54:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mast Irham</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Oasis]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.seribukata.com/?p=1414</guid>
		<description><![CDATA[Dialog di dalam hati: Rizal 1: Masih ingat hadits-hadist yang melaknat para pembuat gambar mahluk yang bernyawa dimana menurut sebagian ulama ini termasuk foto? Yang antara lain menyatakan “Setiap penggambar atau pematung di neraka, dijadikan bagi setiap gambar atau patung yang dibuatnya jiwa yang akan menyiksanya di neraka?” Rizal 2: Masih. Tapi kita sudah pernah [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1415" class="wp-caption aligncenter" style="width: 1060px"><a href="http://www.seribukata.com/2012/11/haji-dan-galau-fotografi/r1/" rel="attachment wp-att-1415"><img class="size-full wp-image-1415" title="R1" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/11/R1.jpg" alt="" width="1050" height="710" /></a><p class="wp-caption-text">Jemaah haji tawaf di Masjidil Haram</p></div>
<p>Dialog di dalam hati:</p>
<p>Rizal 1: <em>Masih ingat hadits-hadist yang melaknat para pembuat gambar mahluk yang bernyawa dimana menurut sebagian ulama ini termasuk foto? Yang antara lain menyatakan “</em>Setiap penggambar atau pematung di neraka, dijadikan bagi setiap gambar atau patung yang dibuatnya jiwa yang akan menyiksanya di neraka?<em>”</em></p>
<p>Rizal 2: <em>Masih. Tapi kita sudah pernah diskusi ini sebelumnya. Dan kita sampai pada kesimpulan bahwa foto tidak termasuk dalam definisi “gambar” itu karena, seperti yang disampaikan oleh Pak Quraish Shihab, foto pada hakikatnya hanyalah bayangan dari sesuatu yang ada. Bukan sesuatu yang digambar.</em></p>
<p>Rizal 1: <em>Ya tapi </em>khan<em> lebih aman kalau kamu tidak melakukannya. Bisa tidak membuang waktu dan lebih konsentrasi kepada ibadahmu. Kamu bukan Saptono dan Prasetyo Utomo yang memotret di sana karena memang dalam penugasan</em>.</p>
<p>Rizal 2: *<em>paused</em>*.</p>
<p>Rizal 2: Gini aja deh, <em>kamera tetap dibawa tapi nanti hanya difokuskan untuk dokumentasi pribadi saja biar anak cucuku bisa melihat seperti apa perjalanan haji Bapak atau Kakeknya</em>.</p>
<p>Rizal 1: <em>Ya pokoknya aku sudah mengingatkan</em>.</p>
<div id="attachment_1416" class="wp-caption aligncenter" style="width: 841px"><a href="http://www.seribukata.com/2012/11/haji-dan-galau-fotografi/r5/" rel="attachment wp-att-1416"><img class="size-full wp-image-1416 " title="R5" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/11/R5.jpg" alt="" width="831" height="575" /></a><p class="wp-caption-text">Kerumunan jemaah pengajian berbahasa Urdu</p></div>
<p>Di akhir dialog itu saya kemudian memutuskan untuk hanya membawa satu <em>body</em> kamera DSLR dan satu lensa <em>wide</em> saja dalam perjalanan haji bersama istri yang dijadwalkan berlangsung selama 26 hari. Saya juga menambahkan tekad untuk tidak memotret pada saat berpakaian ihram, agar lebih khusuk beribadah.</p>
<p>Kami meninggalkan Jakarta pada tanggal 19 Oktober. Setelah selesai melaksanakan ibadah umrah, kami bersama rombongan tinggal di apartemen transit di daerah Aziziah, Mekkah, untuk menunggu waktu wukuf dan prosesi haji lainnya. Selama waktu itu, kamera jarang keluar dari tasnya. Saya hanya mengambil sedikit dokumentasi suasana dalam kamar apartemen beserta penghuninya dan dokumentasi ketika kami mengunjungi tempat jumrah untuk berlatih melempar.</p>
<p>Cuaca di Mekkah pada bulan Oktober dan November sangat cerah. Orang dari segala penjuru mulai memadati daerah Aziziah. Sebagian dari mereka mendirikan tenda di taman-taman kota. Ribuan jumlahnya.</p>
<div id="attachment_1417" class="wp-caption aligncenter" style="width: 1010px"><a href="http://www.seribukata.com/2012/11/haji-dan-galau-fotografi/r3/" rel="attachment wp-att-1417"><img class="size-full wp-image-1417" title="R3" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/11/R3.jpg" alt="" width="1000" height="707" /></a><p class="wp-caption-text">Duduk-duduk di dalam masjid</p></div>
<p>Langit biru dan tingkah polah manusia sebenarnya merupakan insentif untuk keluar dari apartemen dan memulai jeprat-jepret. Tapi entah kenapa saya tidak memiliki <em>appetite</em> untuk melakukannya. Saya lebih memilih mempersiapkan diri untuk hari wukuf seperti melengkapi daftar doa. Dan juga untuk <em>housekeeping</em> dan beristirahat.</p>
<p>Tanggal 24 Oktober malam kami sudah berada di padang arafah untuk persiapan wukuf esok harinya. Setelah sembahyang subuh, sembari menunggu waktu wukuf yang dimulai saat dhuhur, sebagian jamaah memilih untuk bersantai di dalam tenda dan sebagian lagi mulai memainkan kamera atau <em>camcorder</em> untuk mengabadikan diri mereka. Tidak terkecuali ustad pembimbing rombongan kami. Saya pun melanggar tekad dan mulai mengambil gambar saya dan istri dalam busana ihram. “<em>Lha wong ustadnya aja foto-foto kok</em>” kata saya dalam hati.</p>
<div id="attachment_1418" class="wp-caption aligncenter" style="width: 1110px"><a href="http://www.seribukata.com/2012/11/haji-dan-galau-fotografi/r2/" rel="attachment wp-att-1418"><img class="size-full wp-image-1418" title="R2" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/11/R2.jpg" alt="" width="1100" height="765" /></a><p class="wp-caption-text">Pedagang pakaian</p></div>
<p>Di luar tenda, rombongan manusia tidak henti-hentinya memasuki arafah. Sebagian duduk di atap-atap bis. Saya tergerak untuk mengabadikannya. “<em>Cukup dua puluh menit saja</em>” kata saya dalam hati. Kamera kembali ke dalam tas setelah dua puluh menit walaupun belum ada foto yang memuaskan saya.</p>
<p>Wukuf di arafah adalah puncak ibadah haji. Kami menangis memohon ampunan Allah atas dosa-dosa yang kami perbuat. Segala doa saya panjatkan, termasuk doa untuk bisa banyak memenangkan kompetisi fotografi yang ada di bumi ini.</p>
<p>Selepas waktu ashar kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Saya dan istri telah memutuskan untuk ikut dalam rombongan yang menuju Muzdalifah dan Mina dengan berjalan kaki. Jaraknya sekitar 10 km. Di awal perjalanan ini saya sempat mengambil beberapa foto para pejalan kaki dengan latar belakang Jabal Rahmah di kejauhan. Bukit tempat bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa itu berubah warna menjadi putih karena diselubungi oleh orang-orang berpakaian ihram. Setelah itu, tidak ada gambar yang saya ambil dalam perjalanan sekitar enam jam ke Muzdalifah. Rasa lelah, utamanya karena minimnya air minum, membuatku hanya berkonsentrasi dalam langkah kaki yang terasa berat.</p>
<p>Kami <em>camping</em> di pinggiran jalan Muzdalifah sejak tengah malam sampai waktu subuh. Selepas sembahyang berjamaah, kami kembali berjalan ke Mina.  Sesampainya di Mina, saya sempatkan ambil beberapa <em>shoot</em> rombongan orang yang datang dari Muzdalifah.</p>
<p>Agenda di pagi pertama di Mina adalah <em>mbalang</em> jumrah aqabah. Saya telah bersiap membawa tas kamera ketika akan berangkat namun <em>mutawif</em> grup menyarankan untuk meninggalkannya. Ada resiko para polisi Saudi melarang membawa tas ke tempat jumrah.</p>
<div id="attachment_1419" class="wp-caption aligncenter" style="width: 1010px"><a href="http://www.seribukata.com/2012/11/haji-dan-galau-fotografi/r6/" rel="attachment wp-att-1419"><img class="size-full wp-image-1419" title="R6" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/11/R6.jpg" alt="" width="1000" height="663" /></a><p class="wp-caption-text">Pedagang makanan</p></div>
<p>Sedikit ada penyesalan ketika melihat banyak orang bisa melewati polisi-polisi itu dengan membawa tas. Rasa penyesalan bertambah ketika melihat pemandangan ribuan manusia di seputaran area jumrah. Ada yang bercukul gundul secara berjamaah, ada yang sibuk mencari batu untuk melempar, ada yang sarapan, ada yang duduk-duduk saja, macam-macam pokoknya. Plus, <em>lighting</em> di pagi itu sangat elok. Dan kamera saya hanya tersimpan di dalam tenda.</p>
<p>Di hari kedua dan ketiga di Mina, di luar waktu melempar jumrah, saya hanya <em>chilling out</em>. Fisik masih terasa lelah. Saya hanya sekali keluar dari tenda untuk menyempatkan memotret potongan-potongan hati unta yang dijemur oleh para jamaah. Konon, dendeng hati unta sangat bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit asma.</p>
<p>Sempat juga saya membawa kamera ketika melempar jumrah di hari kedua dan ketiga, tapi pemandangannya sudah berbeda dari hari pertama. Saya jadi tidak tertarik untuk banyak mengambil gambar.</p>
<p>Di hari keempat di Mina, badan sudah mulai terasa segar. Sambil menunggu waktu jumrah selepas dhuhur, saya bertekad untuk berburu foto di hari terakhir di Mina itu. Setelah sarapan, perburuan pun dimulai. Tangan seolah kangen menjepret <em>shutter</em>. Pasar pagi, Warna-warni jamaah dari Afrika, barang bekas, penjual baju pesta wanita (<em>yup</em>, baju pesta), semuanya dijepret, tak peduli bagus atau tidak.</p>
<div id="attachment_1420" class="wp-caption aligncenter" style="width: 1110px"><a href="http://www.seribukata.com/2012/11/haji-dan-galau-fotografi/r8/" rel="attachment wp-att-1420"><img class="size-full wp-image-1420" title="R8" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/11/R8.jpg" alt="" width="1100" height="705" /></a><p class="wp-caption-text">Jemaah-jemaah berpakaian ihram</p></div>
<p>Tidak ada kegalauan saat memotret pagi itu. “<em>Sembahyang dhuha masih bisa nanti jam 10</em>”, pikir saya. Walaupun begitu, <em>the first official hunting</em> itu saya akhiri setelah waktu menunjukkan pukul sembilan.</p>
<p>Setelah menyelesaikan lempar jumrah, rombongan berpindah menuju kota Mekkah. The Makkah Royal Clock Tower, menara tertinggi kedua di dunia, seolah menyambut rombongan kami.</p>
<p>“<em>Apakah bisa membawa kamera ini ke dalam Masjidil Haram? Kalau ketahuan apakah akan disita? Kok diluar Masjid ada gambar kamera yang disilang? Apakah berdosa kalau mengambil gambar Ka’bah?</em>” Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul di dalam otak selama dua hari pertama kami di kota Mekkah.</p>
<p>Menginjak hari ketiga di Mekkah, keinginan untuk mempunyai foto Ka’bah yang dibingkai rapi dan digantung di dalam rumah membulatkan tekad saya untuk membawa kamera ke dalam Masjidil Haram. Asumsinya, kalau memang Allah tidak menghendaki, rencana ini pasti tidak akan terlaksana.</p>
<p>Berdasarkan pengamatan, lantai paling atas dari Masjid sepertinya tempat yang paling aman untuk memotret Ka’bah karena tidak banyak pengawasan. Saya pilih untuk masuk lewat pintu dengan tangga berjalan di sebelah pintu King Abdul Aziz <em>Asykar</em> di pintu masuk sama sekali tidak menyentuh tas kamera yang saya bawa.</p>
<p>Pemotretan dimulai seusai sembahyang sunnah ba’diyah Maghrib. Karena banyaknya orang, diperlukan kesabaran untuk mendapatkan <em>spot</em> di pinggir pagar yang memiliki pandangan langsung ke arah Ka’bah. Setelah menunggu beberapa waktu, satu orang Arab di depanku mempersilahkan saya untuk maju ke depan. Saya sempat berpindah tempat memotret tiga kali hingga panggilan sembahyang Isya berkumandang. Pemotretan saya akhiri dengan tidak lupa mengucap rasa syukur.</p>
<p>Setelah sempat memotret Ka’bah sekali lagi seusai sembahyang Subuh, tidak ada lagi rencana untuk memotret di dalam Masjid hingga setelah Maghrib saya melihat satu majelis ceramah berbahasa Urdu di lantai satu. Dari lantai dua, kerumunan orang-orang yang menghadiri majelis itu mengingatkan saya kepada foto pemakaman Gus Dur milik Trisnadi. Keesokan harinya kamera kembali kubawa ke dalam Masjid dengan harapan majelis itu ada lagi. Dan ternyata ada. Lima belas menit aku habiskan untuk memotret majelis itu sampai seorang yang tampaknya berkebangsaan India menghampiri saya dan bertanya dengan sopan dalam bahasa Inggris “<em>Tahukah kamu bahwa orang-orang yang membuat gambar itu dosanya besar</em>?” Saya hanya tersenyum sambil mengemasi kamera.</p>
<div id="attachment_1421" class="wp-caption aligncenter" style="width: 1110px"><a href="http://www.seribukata.com/2012/11/haji-dan-galau-fotografi/r4/" rel="attachment wp-att-1421"><img class="size-full wp-image-1421" title="R4" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/11/R4.jpg" alt="" width="1100" height="744" /></a><p class="wp-caption-text">Seorang jemaah tertidur lelap</p></div>
<p>Satu hari setelah pemotretan majelis itu kami menuju ke Madinah. Tidak seperti di Masjidil Haram, penjagaan <em>asykar</em> di Masjid Nabawi sangatlah ketat. Tas selalu digeledah. Banyak jamaah bisa membawa <em>camcorder</em> kecil ke dalam Masjid tapi aku tidak yakin kamera DSLR akan bisa lolos. Oleh karena itu, praktis tidak banyak foto-foto yang saya ambil selama lima malam berada di Madinah selain foto-foto saat berkunjung ke Masjid Quba dan pasar kurma.</p>
<p>Satu malam berada di Jeddah sebelum terbang kembali ke tanah air tidak memberikan banyak kesempatan untuk memotret. Hanya ada sedikit dokumentasi diri di Masjid terapung (yang sama sekali tidak mengapung) dan para penjual pecel dan bakso di sekitar situ. Pecel lima riyal itu rasanya sama sekali tidak mengecewakan. Kalau pun ada yang kurang, mungkin hanya teh botol.</p>
<p>Dua puluh enam hari yang awalnya terasa lama menjadi sangat sebentar. Baru satu hari berada di rumah sudah timbul kerinduan yang sangat dalam terhadap Mekkah dan Madinah. Doa pun selalu saya panjatkan untuk dapat diberikan rezeki kembali ke tanah suci. Insya Allah dengan tetap membawa kamera.</p>
<p><strong><a href="http://www.seribukata.com/2012/11/haji-dan-galau-fotografi/r7/" rel="attachment wp-att-1422"><img class="alignleft  wp-image-1422" style="border: 3px solid white;" title="R7" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/11/R7-125x125.jpg" alt="" width="125" height="125" /></a>Rizal Adi Dharma</strong>, lahir di Surabaya 26 Mei 1974. Alumni Surabaya Institute of Photography dan Lembaga Pers Dr Soetomo. Tinggal di Cirendeu, Tangerang Selatan, bersama istri dan satu orang putri. Aktif mengikuti berbagai lomba foto dan salah satunya pernah menjuarai National Geographic Indonesia Photo Competition. Saat ini bekerja sebagai legal counsel di salah satu perusahaan energi.</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.seribukata.com%2F2012%2F11%2Fhaji-dan-galau-fotografi%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.seribukata.com/2012/11/haji-dan-galau-fotografi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengolah Foto Dengan Tablet</title>
		<link>http://www.seribukata.com/2012/10/mengolah-foto-dengan-tablet/</link>
		<comments>http://www.seribukata.com/2012/10/mengolah-foto-dengan-tablet/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Oct 2012 05:55:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yuniadhi Agung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>
		<category><![CDATA[Tips and Tricks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.seribukata.com/?p=1387</guid>
		<description><![CDATA[Pekerjaan mengolah foto umumnya dilakukan sebagian besar orang menggunakan personal computer (PC), notebook atau netbook yang sudah dilengkapi piranti lunak (software) khusus. Dari segi kinerja, personal komputer maupun notebook dan netbook memang lebih bisa diandalkan untuk urusan mengolah foto. Selain karena kemampuan prosesor dan RAM memory yang bisa dimaksimalkan, tentunya piranti lunak yang tersedia, sangat [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1390" class="wp-caption alignnone" style="width: 910px"><a href="http://www.seribukata.com/2012/10/mengolah-foto-dengan-tablet/memeindahkan-foto-2/" rel="attachment wp-att-1390"><img class="size-full wp-image-1390" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/10/20120814UKI41.jpg" alt="" width="900" height="506" /></a><p class="wp-caption-text">Foto-foto: Kompas/Lucky Pransiska</p></div>
<p>Pekerjaan mengolah foto umumnya dilakukan sebagian besar orang menggunakan <em>personal computer </em>(PC), <em>notebook</em> atau <em>netbook</em> yang sudah dilengkapi piranti lunak (software) khusus. Dari segi kinerja, personal komputer maupun <em>notebook</em> dan <em>netbook</em> memang lebih bisa diandalkan untuk urusan mengolah foto. Selain karena kemampuan prosesor dan RAM <em>memory</em> yang bisa dimaksimalkan, tentunya piranti lunak yang tersedia, sangat menunjang berbagai kebutuhan dalam mengolah foto dengan maksimal, terutama bagi para profesional. Mulai dari pekerjaan standar mengatur pencahayaan dan kontras, mengatur warna, hingga melengkapi metadata (informasi dan data) foto.</p>
<p>Namun bagi mereka yang memiliki mobilitas tinggi, hal ini sedikit menjadi masalah. PC sudah tentu tidak praktis untuk dibawa-bawa. Demikian juga <em>notebook</em> dan <em>netbook</em>, meski dua perangkat ini didesain sebagai komputer jinjing yang praktis, namun berat dan ukurannya kadang menjadi masalah. Terlebih jika harus selalu membawanya setiap hari selama berjam-jam ditambah peralatan kerja lainya yang juga harus dibawa setiap saat, sangat membebani tubuh.</p>
<p>Bagi mereka yang bekerja dengan mobilitas tinggi namun tidak terlalu membutuhkan perangkat komputer super hebat dan cepat, alternatif pilihanya adalah menggunakan komputer tablet. Selain bentuknya yang kompak dan ringan (umumnya kurang dari satu kilogram), komputer tablet ini sudah banyak menyediakan aplikasi untuk mengolah foto termasuk melengkapi metadata foto seperti keterangan foto, judul foto maupun tanggal pemotretan. Komputer tablet yang beredar di pasaran pun memiliki varian yang cukup beragam, baik dari segi kemampuan, ukuran, maupun harga. Dua komputer tablet yang mendominasi pasaran beberapa tahun terakhir yaitu Ipad keluaran Apple dan Galaxy Tab produksi Samsung.</p>
<p>Keduanya memiliki kemampuan yang relatif sama. Perbedaan yang mecolok hanya pada basis operasinya, jika Ipad mengunakan <em>operating system</em> Apple, sedangkan Galaxy Tab, berbasis pada android. Namun tulisan ini tidak akan membahas soal kemampuan dua tablet tersebut, tetapi akan sedikit mengulas mengenai proses mengolah foto menggunakan aplikasi yang tersedia pada kedua tablet tersebut.</p>
<p><strong>Menginstal Aplikasi</strong></p>
<p>Sebelum memulai proses mengolah foto, hal pertama yang harus dilakukan tentunya menginstal aplikasi kedalam tablet. Untuk Ipad aplikasi dapat diunduh melalui app store atau melaui itunes, sementara galaxy tab bisa diunduh melalui play store. Sementara akesori tambahan yang dibutuhkan untuk memindahkan gambar dari kamera atau kartu memori eksternal ke komputer tablet yaitu berupa kabel usb 2.0 dan usb konektor. Keduanya dapat dengan mudah dibeli di toko kumputer atau di outlet vendor masing-masing.</p>
<p>Aplikasi populer untuk mengolah sekaligus melengkapi metadata foto pada Ipad antara lain filterstorm dan photogene. Harga aplikasi ini untuk satu kali unduh berkisar antara satu hingga enam dolar Amerika Serikat atau berkisar antara Rp 9.400-Rp 56.000. Kedua aplikasi ini bisa melakukan tiga jenis pekerjaan sekaligus.</p>
<p>Pertama mengolah perwajahan foto, seperti mengatur kontras, <em>sharpen</em>, kroping hingga <em>white balance</em>. Kedua melengkapi metadata foto, antara lain mengisi tanggal pemotretan, judul foto, keterangan foto, lokasi pemotratan, <em>goetaging</em>, hingga informasi nama fotografer. Metadata ini termasuk elemen yang penting tidak saja berfungsi untuk memberikan keterangan atau menambahkan catatan kepada foto tersebut, namun juga memberikan identitas atas kepemilikan hak cipta (copyright) foto. Selain itu metadata berfungsi membantu mengelola pengarsipan foto sehingga mempermudah pencarian foto berdasarkan judul, lokasi atau waktu pemotretan. Terakhir, aplikasi ini memiliki fasilitas untuk mengunggah foto dengan mudah karena sudah terhubung dengan beberapa jejaring sosial antara lain twitter, facebook, tumblr, istagram atau flickr. Foto juga dapat dengan mudah dikirim melalui email, FTP, bahkan bluetooth.<br />
Tampilan aplikasi filterstorm sangat sederhana dan mudah dioperasikan, sekali pun oleh orang yang baru pertama belajar mengolah foto. Demikian pula dengan aplikasi photogene, cara mengoperasikanya tidak lah jauh berbeda dengan filterstorm.</p>
<p><a href="http://www.seribukata.com/2012/10/mengolah-foto-dengan-tablet/photo-editor/" rel="attachment wp-att-1391"><img class="alignnone size-full wp-image-1391" title="Photo Editor" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/10/20120814UKI2.jpg" alt="" width="800" height="498" /></a></p>
<p>Sama halnya dengan iPad, Galaxy Tab yang berbasis android juga memiliki aplikasi untuk mengolah foto dan melengkapi metadata. Hanya saja proses mengolah perwajahan foto dan proses mengisi metadata foto dilakukan oleh dua aplikasi berbeda. Untuk mengolah foto salah satu aplikasi yang banyak digunakan adalah photo editor sementara aplikasi untuk mengisi metadata banyak digunakan aplikasi MoPhotos. Khusus untuk photo editor, aplikasi ini dapat diunduh secara gratis dari play store. Tidak jauh beda dari  photogene atau filterstorm, MoPhotos pun memiliki fasilitas untuk mengunduh foto ke berbagai jejaring sosial, email atau bluetooth. Semuanya sudah terhubung dengan mudah.</p>
<p>Namun bila aplikasi di atas tidak sesuai dengan kebutuhan atau barangkali anda tidak memiliki cukup budget, jangan khawatir. Saat ini sudah ada aplikasi online untuk mengolah foto. Salah satu situs yang menyediakan aplikasi untuk mengolah foto yaitu http://pixlr.com. Situs ini meyediakan beberapa aplikasi online untuk mengolah foto dari yang paling sederhana pixlr express (http://pixlr.com/express), mengolah foto tingatan lebih tinggi pixlr editor (http://pixlr.com/editor), atau pixlr-o-matic (http://pixlr.com/o-matic/) untuk anda yang suka mengolah foto bergaya retro seperti halnya kamera lomo.</p>
<p><strong>Memindahkan Foto</strong></p>
<p>Biasanya setelah memotret dengan kamera digital SLR atau kamera saku, pertanyaanya adalah bagaimana memindahkan atau mengopi foto dari kamera atau kartu memori ke komputer tablet. Untuk memindahkan atau mengopi foto dari kamera, kartu memori eksternal atau flash disk, dibutuhkan perangkat tambahan yang dinamakan usb konektor dan kabel usb seri 2. Alat ini dengan mudah ditemukan di toko komputer atau di outlet vendor komputer tablet.</p>
<p><a href="http://www.seribukata.com/2012/10/mengolah-foto-dengan-tablet/usb-conector/" rel="attachment wp-att-1393"><img class="alignnone size-full wp-image-1393" title="USB Conector" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/10/20120814UKI5.jpg" alt="" width="800" height="548" /></a></p>
<p>Hal pertama yang dilakukan adalah memasang usb konektor terlebih dahulu pada komputer tablet.  Untuk memindahkan atau mengopi file foto dari kamera dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama menghubungkan langsung kamera dengan komputer tablet menggunakan kabel USB. Cara kedua melepas kartu memori kamera dan memindahkan atau mengopi menggunakan <em>card reader</em>. Sedangkan file foto yang ada di <em>flash disk</em> tentunya tidak lagi dibutuhkan kabel, tinggal langsung colok saja ke usb konektor yang sudah terpasang di komputer tablet. Jika sudah terhubung, dengan sendirinya tablet akan membaca piranti eksternal yang tersambung tersebut. Pekerjaan selanjutnya hanya lah tinggal memilih foto yang akan diolah menggunakan aplikasi tersebut.</p>
<p><a href="http://www.seribukata.com/2012/10/mengolah-foto-dengan-tablet/meta-data-foto/" rel="attachment wp-att-1394"><img class="alignnone size-full wp-image-1394" title="Meta Data Foto" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/10/20120814UKI3.jpg" alt="" width="800" height="477" /></a></p>
<p>Beberapa komputer tablet atau <em>smartphone</em> sudah dilengkapi kamera dengan resolusi di atas lima megapixel. Bahkan ada perangkat yang sudah memiliki kamera dengan resolusi 12 megapixel seperti Motorolla Bulet, Sony Xperia, atau Samsung Galaxy S III dan kabarnya menyusul Iphone 5. Tidak hanya itu <em>smartphone</em> juga mulai mempercepat kemampuan merekam gambar hingga lebih dari tiga frame per detiknya. Untuk ukuran <em>smartphone</em> sudah terbilang cepat dan tentunya sudah cukup baik untuk menghasilkan gambar yang tajam. Jadi tentunya bila sekadar memotret obyek dekat atau <em>landscape</em> yang tidak membutuhkan kecepatan tinggi, tidak lagi memerlukan kamera DSLR atau kamera saku, cukup dengan kamera tablet atau <em>smartphone</em> sudah bisa langsung diolah lalu dikirim.  Selamat mencoba.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://www.seribukata.com/2012/10/mengolah-foto-dengan-tablet/foto/" rel="attachment wp-att-1397"><img class=" wp-image-1397 alignleft" style="border: 8px solid white;" title="foto" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/10/foto-125x125.jpg" alt="" width="125" height="125" /></a><strong></strong></p>
<p><strong>Lucky Pransiska</strong>, lahir di Bandung 18 April 1978. Kuliah Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (1997-2001). belajar Fotografi pertama SMA kelas 2 (1995). Kerja di Indopos (2003), Kompas (2004-sekarang). Ayah dari satu anak tinggal di Sawangan Depok.<br />
<strong>Penghargaan</strong> : WanIfra bronze award utk kategori news, Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) 2010 : General News,  APFI 2011 : Sport News<br />
<strong>Buku</strong>: Mata Hati, Fifty Seven Seconds, Aerowana.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>(Catatan: artikel ini pernah dimuat di www.kompas.com  http://tekno.kompas.com/read/2012/08/14/20003442/Mengolah.Foto.Menggunakan.Tablet)</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.seribukata.com%2F2012%2F10%2Fmengolah-foto-dengan-tablet%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.seribukata.com/2012/10/mengolah-foto-dengan-tablet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Demi Janji untuk Orangutan</title>
		<link>http://www.seribukata.com/2012/10/janji-rere-untuk-orangutan/</link>
		<comments>http://www.seribukata.com/2012/10/janji-rere-untuk-orangutan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Oct 2012 11:01:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Seribu Kata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>
		<category><![CDATA[Photojournalism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.seribukata.com/?p=1358</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Tergerak saat melihat tayangan salah satu televisi swasta yang memberitakan tentang maraknya pembantaian Orangutan di Kalimantan pada akhir tahun 2011, hingga akhirnya saya nekat berangkat ke daratan Borneo. Sendiri, menyusuri jalanan di Kalimantan mencari tempat rehabilitasi Orangutan. Saya bersyukur dimudahkan dan diizinkan saat pertama kali menemukan salah satu pusat rehabilitasi Orangutan. Tempat itu bernama [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-1360" title="Orangutan: Rhyme &amp; Blues&quot;" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/10/ReginaSafri_OrangUtan_002-590x393.jpg" alt="" width="590" height="393" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tergerak saat melihat tayangan salah satu televisi swasta yang memberitakan tentang maraknya pembantaian Orangutan di Kalimantan pada akhir tahun 2011, hingga akhirnya saya nekat berangkat ke daratan Borneo. Sendiri, menyusuri jalanan di Kalimantan mencari tempat rehabilitasi Orangutan.</p>
<p>Saya bersyukur dimudahkan dan diizinkan saat pertama kali menemukan salah satu pusat rehabilitasi Orangutan. Tempat itu bernama Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), di Kutai, Kalimantan Timur. Mereka sendiri yang mengatakan bahwa hampir tidak pernah mengizinkan wartawan foto masuk ke area rehabilitasi Orangutannya, apalagi untuk mendekat dan memotret. Hal tersebut karena mereka punya alasan tertentu. Dan saya sangat bersyukur saya bisa.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-1362" title="Orangutan: Rhyme &amp; Blues&quot;" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/10/ReginaSafri_OrangUtan_006-590x393.jpg" alt="" width="590" height="393" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-1363" title="Orangutan: Rhyme &amp; Blues&quot;" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/10/ReginaSafri_OrangUtan_013-590x393.jpg" alt="" width="590" height="393" /></p>
<p>Sebelum saya memotret, saya diwajibkan untuk mengikuti kesehatan, meliputi tes darah, ludah dan rontgen. Karena Orangutan memiliki 97 persen lebih kesamaan DNA dengan manusia, jadi akan mudah saling menularkan penyakit. Saya lalu menyewa mobil untuk kembali ke Balikpapan mencari klinik kesehatan.</p>
<p>Setelah dinyatakan bersih dari segala penyakit, saya mulai memotret. Entah kenapa, pertama kali saya menatap mata Orangutan di sana, saya merasa seakan saya reinkarnasi dari mereka. Terasa sekali kepedihan dan kesedihan mereka. Orangutan yang kehilangan induknya, yang kehilangan hutannya, yang ingin bebas tapi takut dengan manusia. Mulai saat itu, saya berjanji di dalam hati harus berbuat sesuatu untuk mereka.</p>
<blockquote><p><strong>Usai mengorek seluruh isi tabungan, saya juga menjual sebuah kamera kesayangan untuk biaya pulang pergi ke Kalimantan</strong></p></blockquote>
<p>Untuk mewujudkan janji saya kepada mereka, saya mengerahkan seluruh tenaga dan materi yang saya punya. Usai mengorek seluruh isi tabungan, saya juga menjual sebuah kamera kesayangan untuk biaya pulang pergi ke Kalimantan. Selain itu, saya juga terpaksa menjual sejumlah barang &#8211; barang di dalam kamar kos di Yogyakarta.</p>
<p>Tidak mudah, banyak hal yang harus dilalui. Sedih, kesal, kecewa sering hadir. Bahkan hampir putus asa di tengah jalan. Tapi saya selalu anggap segala halangan dan rintangan sebatas ujian dari Tuhan untuk mengukur seberapa konsisten memenuhi janji kepada orangutan.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-1364" title="Orangutan: Rhyme &amp; Blues&quot;" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/10/ReginaSafri_OrangUtan_003-590x393.jpg" alt="" width="590" height="393" /></p>
<p>Saya berhasil mengumpulkan kegiatan orangutan di tempat rehabilitasi hingga mereka dilepasliarkan ke hutan, di Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Delapan kali bolak balik Kalimantan. Kadang seminggu, kadang sebulan, kadang saya hanya tiga hari tinggal bersama orangutan di Kalimantan.</p>
<p>Semua dokumentasi saya serahkan kepada fotografer senior Antara, Oscar Motuloh untuk dikurasi. Bang Oscar lah yang pada akhirnya meneruskan perjuangan saya hingga akhirnya dapat terwujud menjadi pameran tunggal dan buku bertajuk &#8221; Orangutan rhyme and blues&#8221;. Akhirnya, saya berhasil memenuhi janji saya ke Orangutan. Semoga apa yang saya lakukan dapat menyentuh hati masyarakat masa kini, bahwa keberadaan orangutan sangat erat dengan kualitas dan keberlangsungan hidup manusia. (REGINA SAFRI)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Regina Septiarini Safri was born on September 23rd, in Jakarta. After completing her degree at UPN Veteran, she started working as photo journalist in Kabare magazine. And in 2004 until now, she joined Antara Press Photo Agency. After completing her first book “Membidik Peristiwa Jadi Berita”, the news about the abuse of orangutan caught her attention. Heartbroken with the news, she feels the need to experience their suffering first hand. She spare some time off from her work and funded the trip from her own saving. Her love for orangutan has led her to visit them again, this time at the cost of her favorite camera. Based on her experience and her interaction with orangutan, she made promise to herself to do something to help them. And this is her fulfillment of that promise.</em></p>
<div id="attachment_1378" class="wp-caption aligncenter" style="width: 1793px"><a href="http://www.seribukata.com/2012/10/janji-rere-untuk-orangutan/rere/" rel="attachment wp-att-1378"><img class="size-full wp-image-1378  " title="RERE" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/10/RERE.jpg" alt="" width="1783" height="1295" /></a><p class="wp-caption-text">Buku selama ada pameran harga Rp 200.000 diluar pameran Rp 250.000,<br />cara mendapatkannya melalui Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA)</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-1365" title="Orangutan: Rhyme &amp; Blues&quot;" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/10/ReginaSafri_OrangUtan_001-590x393.jpg" alt="" width="590" height="393" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-1366" title="Orangutan: Rhyme &amp; Blues&quot;" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/10/ReginaSafri_OrangUtan_004-590x393.jpg" alt="" width="590" height="393" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-1367" title="Orangutan: Rhyme &amp; Blues&quot;" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/10/ReginaSafri_OrangUtan_007-590x393.jpg" alt="" width="590" height="393" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-1368" title="Orangutan: Rhyme &amp; Blues&quot;" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/10/ReginaSafri_OrangUtan_009-590x885.jpg" alt="" width="590" height="885" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-1369" title="Orangutan: Rhyme &amp; Blues&quot;" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/10/ReginaSafri_OrangUtan_016-590x786.jpg" alt="" width="590" height="786" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-1370" title="Orangutan: Rhyme &amp; Blues&quot;" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/10/ReginaSafri_OrangUtan_010-590x442.jpg" alt="" width="590" height="442" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-1371" title="Orangutan: Rhyme &amp; Blues&quot;" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/10/ReginaSafri_OrangUtan_014-590x442.jpg" alt="" width="590" height="442" /></p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.seribukata.com%2F2012%2F10%2Fjanji-rere-untuk-orangutan%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.seribukata.com/2012/10/janji-rere-untuk-orangutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diskusi Fotografi 18 Oktober</title>
		<link>http://www.seribukata.com/2012/10/diskusi-fotografi-yang-inklusif-dan-membangun-apresisasi-fotojurnalistik-massa-depan/</link>
		<comments>http://www.seribukata.com/2012/10/diskusi-fotografi-yang-inklusif-dan-membangun-apresisasi-fotojurnalistik-massa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Oct 2012 03:27:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Seribu Kata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Festivals & Events]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.seribukata.com/?p=1347</guid>
		<description><![CDATA[Fotojurnalis, seperti sering kita dengar, kurang mendapat penghargaan selaras dengan tugasnya yang begitu ‘penting’. Mendokumentasikan kisah nyata dengan cara paling otentik mungkin dan dengan integritas jurnalistik maksimal. Itu menjadi sebuah topik yang begitu populer dan serasa tanpa habis dibicarakan oleh para &#8216;visual wordsmith&#8217;. Namun apakah masalah tersebut bukan bersumber kepada fotojurnalis sendiri yang kurang bisa [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Fotojurnalis, seperti sering kita dengar, kurang mendapat penghargaan selaras dengan tugasnya yang begitu ‘penting’. Mendokumentasikan kisah nyata dengan cara paling otentik mungkin dan dengan integritas jurnalistik maksimal. Itu menjadi sebuah topik yang begitu populer dan serasa tanpa habis dibicarakan oleh para <em>&#8216;visual wordsmith&#8217;</em>. Namun apakah masalah tersebut bukan bersumber kepada fotojurnalis sendiri yang kurang bisa membangun apresiasi dari tingkat dasar?</p>
<p>Disisi lain, media pun secara koorporasi sudah mulai berubah, dalam beradaptasi dengan zaman, khususnya dunia internet dalam melihat foto dan pewarta fotonya. Merebaknya semangat <em>citizen-journalism </em>menjadi sebuah jalan keluar untuk menekan biaya dan kebutuhan gambar yang cepat yang kadang tanpa memperhitungkan biasnya berita karena posisi &#8216;pewarta dadakan&#8217; yang merupakan anggota komunitas yang sedang dilaporkan. Namun apakah cukup dengan menyalahkan kredibilitas mereka akan merubah nasib fotografer yang mencari penghidupan didalamnya?</p>
<p>Perkembangan teknologi yang luar biasa dalam satu dasawarsa terakhir ini telah mampu membuat fotografi menjadi sebuah media yang cukup demokratis. Menjadi bagian dan kebutuhan kehidupan sehari-hari, baik tanpa sadar atau tidak. Jutaan foto tampil tiap harinya dibeberapa sosial-media dengan semangat sama, &#8216;mengabarkan&#8217; atau ‘orang serius&#8217; bilang <em>storytelling</em>. Fotografi menjelma sebagai sebuah media yang sangat <em>inklusif</em>.  Bukan lagi dominasi para fotografer yang terkesan begitu <em>cool</em> dan <em>heroic</em>.</p>
<p>Namun antusiasme besar para amatir yang serius ini seperti kurang mendapat tempat di kalangan profesional khususnya pada <em>genre</em> jurnalistik dan dokumenter. Padahal di bagian lain fotografi, komersial misalnya telah mampu membuat komunitas-komunitas fotografi ini menjadi <em>‘ladang’</em> yang menggiurkan. Ada sebagian anggapan, mereka (para fotojurnalis) terlalu tinggi menilai dirinya sendiri dan sibuk menyiapkan bahan untuk ‘mengejutkan’ dunia.  Hingga abai dalam mengedukasi calon pemirsanya di masa depan.</p>
<p>Konon, foto sudah menjadi barang yang tidak &#8216;semewah&#8217; dulu saat &#8216;masa emas&#8217; fotojurnalistik berlangsung. Memenang tidak semua orang yang bisa menulis akan menjadi penulis. Namun menjadi penulis pun belum tentu buku tersebut akan laku diserap pasar yang konon sangat menjanjikan. Tidak sekedar masalah ketrampilan teknis yang harus ditingkatkan, tapi menyangkut pola pikir yang harus mengikuti perubahan jaman. Cara berprilaku baik secara nyata maupun didunia maya yang perlu dipertimbangkan. Cara melihat tantangan menjadi sebuah peluang yang menggairahkan di masa mendatang.</p>
<p>Dengan semangat berbagi, kami mengundang anda semua untuk hadir dalam bincang-bincang yang akan mencoba menangkap semua misteri yang ada di sekitar kita. Membawa narasumber yang tidak asing di dunia kita :</p>
<ul>
<li><span style="color: #ff6600;"><strong>Kemal Jufri,</strong> </span><em>Fotografer, Pemenang World Press Photo 2011</em></li>
<li><span style="color: #ff6600;"><strong>Tantyo Bangun</strong>,</span> <em>Fotografer dan Penulis, Mantan Editor in Chief at National Geographic Indonesia Magazine</em></li>
<li><span style="color: #ff6600;"><strong>Ndoro Kakung</strong>, </span><em>Praktisi Social-Media, mantan editor in chief tempo interaktif yang sekarang bekerja sebagai editor in chief di portal berita PlasaMSN</em></li>
</ul>
<p style="padding-left: 30px;"><span style="color: #ff6600;"><strong>Tempat : Kuningan City</strong></span></p>
<p style="padding-left: 30px;"><span style="color: #ff6600;"><strong>Hari/Tanggal : Kamis, 18 Oktober 2012</strong></span></p>
<p style="padding-left: 30px;"><span style="color: #ff6600;"><strong>Pukul : 18.00</strong></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Berbincang-bincang tentang:</strong></p>
<blockquote><p><span style="color: #ff6600;"><strong><em>Fotografi yang Inklusif dan Membangun Apresisasi Fotojurnalistik Massa Depan </em></strong></span></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em><strong><span style="color: #999999;">Coming together is a beginning; keeping together is progress; working together is success &#8211; Henry Ford </span></strong></em></p>
<blockquote><p><img class="aligncenter size-medium wp-image-1350" title="Image" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/10/Image-590x833.jpg" alt="" width="590" height="833" /></p></blockquote>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.seribukata.com%2F2012%2F10%2Fdiskusi-fotografi-yang-inklusif-dan-membangun-apresisasi-fotojurnalistik-massa-depan%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.seribukata.com/2012/10/diskusi-fotografi-yang-inklusif-dan-membangun-apresisasi-fotojurnalistik-massa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SELAMAT JALAN BANG JUL&#8230;</title>
		<link>http://www.seribukata.com/2012/10/selamat-jalan-bang-jul/</link>
		<comments>http://www.seribukata.com/2012/10/selamat-jalan-bang-jul/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Oct 2012 04:33:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mast Irham</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Oasis]]></category>
		<category><![CDATA[Photographers]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>
		<category><![CDATA[Photojournalism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.seribukata.com/?p=1321</guid>
		<description><![CDATA[Satu lagi nama besar pewarta foto Indonesia berpulang. Julian Sihombing, pewarta foto Harian Kompas, menghembuskan hafas terakhirnya Minggu (14/10) dini hari di National University Hospital, Singapura karena kanker getah bening yang dideritanya. Julian meninggal di usia 53 tahun. Teman, sahabat, kolega mengenal Julian sebagai sosok humoris, hangat dan blak-blakan. Bagi dunia fotojurnalistik Tanah Air, karya-karya [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1324" class="wp-caption aligncenter" style="width: 2470px"><a href="http://www.seribukata.com/2012/10/selamat-jalan-bang-jul/ags1/" rel="attachment wp-att-1324"><img class="size-full wp-image-1324 " title="ags1" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/10/ags1.jpg" alt="" width="2460" height="1711" /></a><p class="wp-caption-text">Julian Sihombing memotret rekan dan kerabat yang menjemputnya di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, usai perawatan kanker di Singapura. Foto : KOMPAS/Agus Susanto</p></div>
<p>Satu lagi nama besar pewarta foto Indonesia berpulang. Julian Sihombing, pewarta foto Harian Kompas, menghembuskan hafas terakhirnya Minggu (14/10) dini hari di National University Hospital, Singapura karena kanker getah bening yang dideritanya. Julian meninggal di usia 53 tahun.</p>
<p>Teman, sahabat, kolega mengenal Julian sebagai sosok humoris, hangat dan <em>blak-blakan</em>. Bagi dunia fotojurnalistik Tanah Air, karya-karya Julian selalu berhasil memberi inspirasi. Kepergiannya menjadi sebuah kehilangan besar bagi dunia fotojurnalistik Tanah Air.</p>
<p>Selamat jalan Bang Jul, &#8230; doa kami menyertaimu&#8230;</p>
<p>Seribukata merangkai kesan-kesan sebagian pewarta foto terhadap sosok Julian Sihombing (JS) :</p>
<p><strong>Danu Kusworo, Wakil Kepala Desk Foto Kompas :</strong><br />
&#8220;Dul&#8221; menjadi panggilan akrab Julian Sihombing di Desk Foto Kompas. Dia senior yg sangat bisa &#8220;ngemong&#8221; junior-juniornya, keras dan tegas dalam prinsip, terutama dalam bertugas sebagai salah satu editor foto Kompas, tapi sangat <em>friendly</em> dan kocak di sela-sela rutinitas kantor. Bahkan dikala menjalani perawatan, di masa sakitnya, Julian Sihombing (JS) masih selalu menyempatkan menanyakan kerjaan kantor dan keadaan temen-teman lainnya. Kompas dan dunia fotojurnalistik, akan selalu mengenang  seorang Julian Sihombing sebagai salah satu guru foto jurnalistik. Selamat jalan Dul&#8230;.</p>
<p><strong>Lucky Pransiska, Pewarta Foto Kompas :</strong><br />
Julian Sihombing pernah berkata <em>split second split moment</em> itu bukanlah sebuah keberuntungan namun karena dia memang sudah siap dengan subjek fotonya. Dia tegas, keras dan tulus, bicara apa adanya dan selalu berjuang untuk kami. dia adalah mentor dan pendengar yang baik.. Ruang redaksi selalu meriah setiap malamnya karena tak ada dinding sosial di antara kita tak ada batas usia di antara kita.. Dia hebat tapi tak pernah merendahkan..</p>
<p><strong>Heru Sri Kumoro, Pewarta Foto Kompas :</strong><br />
Bang Julian Sihombing, atau Bang JS, atau Bang Jul, biasa aku menyebutnya. Sosok guru, mentor, senior, dan kawan sekaligus. Karya-karyanya menjadi salah satu inspirasi aku masuk dunia fotografi jurnalistik. Bagiku dia sosok yang ulet dan total dalam bekerja. Dia sosok yang sangat mencintai institusi dia bekerja-Kompas, dan tentu rekan-rekan kerjanya. Saat menjalani perawatan sakitnya, dia menyempatkan main ke Kompas, sekedar untuk menyapa kawan-kawannya. Dalam beberapa kesempatan dia menyampaikan keinginannya untuk bisa kembali bekerja. Dia juga orang yang memiliki prinsip dan pendirian yang kuat. Dia rela memperjuangkan foto anak buahnya, juga foto karyanya, untuk bisa dimuat di halaman 1 Kompas jika memang layak, meski mungkin sebelumnya foto itu ditolak editor lain untuk nampang di halaman 1. Dia juga sangat dekat dengan rekan kerjanya. Dia mau berbagi ilmu dengan juniornya, bercanda dengan kami meski dari ilmu dan usia terpaut jauh. Dunia fotografi jurnalistik Indonesia kehilangan salah satu pewarta terbaiknya.</p>
<p><strong>Agus Susanto, Pewarta Foto Kompas :</strong><br />
Turut berduka. Masih teringat bagaimana JS mengedit esai foto dengan<em> perfect</em>. Selamat jalan Bang.</p>
<p><strong>Jerry Adiguna, Ketua Pewarta Foto Indonesia :</strong><br />
Julian Sihombing merupakan senior yang menanamkan pentingnya seorang pewarta foto untuk terus mengembangkan diri, mengasah kemampuan, mempertajam kepekaan dan empati.</p>
<p><strong>Dadang Tri, Pewarta Foto Lepas :</strong><br />
JS orang paling baik yang pernah aku kenal. Selalu berbagi ilmu dan mau bergaul, menyapa teman2 fotojurnalis muda. Kocak, asyik orangnya&#8230;.</p>
<p><strong>Hariyanto, Redaktur Foto Media Indonesia :</strong><br />
Seorang senior, guru dan sahabat yang luar biasa. Selalu apa adanya, tak ada yg ditutup-tutupi. Bersahabat dengan JS adalah berkah yang tak terhingga buat saya. Virus kreativitasnya tanpa ia sadari telah menjalar ke banyak orang termasuk saya. Sebagai senior, JS memang sangat layak menjadi panutan. Selamat jalan sahabat&#8230;.Semoga tenang dan diterima di sisi-NYA</p>
<p><strong>Peksi Cahyo, Pewarta Foto Bola :</strong><br />
Buat gue, Bang Julian Sihombing adalah inspirator terbesar, ketika memutuskan menekuni profesi fotojurnalistik. Bisa dibilang gue cukup beruntung pernah berinteraksi langsung dengan beliau..<br />
Ketika masih junior, pernah saat gue motret di Istana mencoba meniru <em>angle</em>-nya dia ngomong <em>pedes</em> begini &#8220;wah besok koran pagi <em>angle</em> fotonya bisa kembaran nih..&#8221; Sebuah sindiran yang akhirnya gue pahami bahwa fotojurnalistik selain menceritakan peristiwa juga harus ada <em>authorship</em> yang akan membedakan seorang fotojurnalis satu dengan yang lain. Yang berkesan lainnya adalah pernah dapat limpahan <em>project</em> foto dari beliau&#8230;deg-degan banget rasanya khawatir ekspektasi kualitasnya tidak tercapai. <em>End all</em>, JS telah meninggalkan banyak hal baik bagi dunia fotojurnalistik..</p>
<p><strong>Arie Basuki, Pewarta Foto www.merdeka.com :</strong><br />
Beliau orang baik&#8230;.yang mau <em>share</em> ilmu kepada fotografer-fotografer muda&#8230;..</p>
<p><strong>Edy Purnomo, Pewarta Foto Lepas, Panna photo :</strong><br />
Bang Julian seorang sahabat yang sangat hangat dan luar biasa. Keterbukaan pemikiran terhadap perkembangan fotojurnalisme menjadi hal penting dalam diri Bang JS.</p>
<p><strong>Beawiharta, Pewarta Foto Reuters :</strong><br />
Setiap ketemu dan memotret bareng di lapangan, dan terjadi sebuah peristiwa, di akhir kesempatan JS pasti bertanya, eh lu sudah pada dapet semua kan ? <em>He care to everybody</em>. Dan kalau ada yang tidak dapat, ada saja sarannya. <em>And it works</em>.  Fotonya indah, hatinya juga indah. Cerdas, selalu menemukan <em>angle</em> yang lalu ditiru banyak orang. Tapi ia selalu marah kalau ada orang memotong pohon. Di tempat-tempat yang dikunjungi ia pasti punya pohon favorit. Ia mencintai pohon, Ia maestro yang rendah hati, membumi, seperti pohon.</p>
<p><strong>Rizal Adi Dharma, Karyawan swasta dan fotografer</strong><br />
Waktu: suatu hari di bulan Juni tahun 2000.<br />
Event: PON XV<br />
Sore itu jam sudah menunjukkan sekitar pukul 6. Sekelompok perenang putri sedang melakukan persiapan. Kalau tidak salah, mereka akan bertanding di kelas gaya dada. Si cantik Elsa Manora Rosa Nasution ada disana.  Komplek kolam renang itu disinari lampu dari empat sudutnya. Ketika para perenang tersebut akan melakukan jump start, tiga dari empat lampu itu tiba-tiba padam. Penerangan menjadi sangat minim. Hampir semua fotografer yang ada disitu pun urung memotret dan meletakkan kamera mereka. Tapi satu fotografer di depanku ini, yang tadi menegurku untuk tidak merokok di kolam renang, tetap berkutat dengan alatnya. Dia melepas lensa panjang dari body Nikon D1-nya, menempatkan lensa itu dalam tas kanvas Tamrac-nya dan kemudian memasang lensa tele yang tampaknya adalah 80-200. Semua dilakukan dengan cara yang halus. Pertandingan tetap dilanjutkan dengan hanya disinari satu lampu dan fotografer ini tetap sibuk memotret. I said to myself: “Mau motret apa Oom, nggak ada lighting-nya. Mau pake ISO 2 juta?” Aku lalu pergi dari kolam renang itu.  Esok harinya, halaman depan Harian Kompas memuat foto panning yang bagus dari jump start itu. Di bawah foto itu tertulis “Julian Sihombing”. Aku pun cuma bisa berujar “Ah, bodohnya dirimu Rizal”.</p>
<p><em>Bagaimana dengan anda, punya pendapat dan pengalaman menarik dengan JS ? </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1322" class="wp-caption aligncenter" style="width: 730px"><a href="http://www.seribukata.com/2012/10/selamat-jalan-bang-jul/pri1/" rel="attachment wp-att-1322"><img class="size-full wp-image-1322 " title="Pri1" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/10/Pri1.jpg" alt="" width="720" height="495" /></a><p class="wp-caption-text">Meski masih dalam proses pengobatan penyakit kanker, Julian Sihombing tetap bekerja mengedit foto-foto Kompas. foto: KOMPAS/Priyombodo</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.seribukata.com%2F2012%2F10%2Fselamat-jalan-bang-jul%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.seribukata.com/2012/10/selamat-jalan-bang-jul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PASSING, Pencarian Cahaya dan Warna Edy Purnomo</title>
		<link>http://www.seribukata.com/2012/10/passing-pencarian-cahaya-dan-warna-edy-purnomo/</link>
		<comments>http://www.seribukata.com/2012/10/passing-pencarian-cahaya-dan-warna-edy-purnomo/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Oct 2012 05:22:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mast Irham</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>
		<category><![CDATA[Photojournalism]]></category>
		<category><![CDATA[Travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.seribukata.com/?p=1303</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Cahaya dan warna adalah unsur yang memikat indera mata. Kedua unsur itu memikatEdy Purnomo, fotografer yang telah lebih dari satu decade mendokumentasikan manusia dan lingkungannya. Melalui kameranya, Edpur, begitu dia biasa disapa, merekam cahaya, warna, dan manusia menjadi sebuah adegan beku, namun sarat cerita. &#160; Tiga belas tahun, Edy Purnomo mencari cahaya, warna, dan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1304" class="wp-caption aligncenter" style="width: 910px"><a href="http://www.seribukata.com/2012/10/passing-pencarian-cahaya-dan-warna-edy-purnomo/ed1/" rel="attachment wp-att-1304"><img class="size-full wp-image-1304" title="ED1" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/10/ED1.jpg" alt="" width="900" height="586" /></a><p class="wp-caption-text">KATHMANDU, NEPAL-AUGUST 7, 2003: A worker carries a bucket of sands to built road.</p></div>
<p>Cahaya dan warna adalah unsur yang memikat indera mata. Kedua unsur itu memikatEdy Purnomo, fotografer yang telah lebih dari satu decade mendokumentasikan manusia dan lingkungannya. Melalui kameranya, Edpur, begitu dia biasa disapa, merekam cahaya, warna, dan manusia menjadi sebuah adegan beku, namun sarat cerita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tiga belas tahun, Edy Purnomo mencari cahaya, warna, dan manusia. Mulai dari pesisir pantai Pulau Banda hingga ke negeri atap dunia, Nepal. Di setiap tempat disinggahi, selalu ada framen cahaya-warna-manusia yang membuat detak jantung Edy tertahan, dan seketika naluriah berbicara. Merekam momen menjadi sebuah foto.</p>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1305" class="wp-caption aligncenter" style="width: 910px"><a href="http://www.seribukata.com/2012/10/passing-pencarian-cahaya-dan-warna-edy-purnomo/ed2/" rel="attachment wp-att-1305"><img class="size-full wp-image-1305" title="ED2" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/10/ED2.jpg" alt="" width="900" height="598" /></a><p class="wp-caption-text">Dieng, Indonesia 1999</p></div>
<p>Selama itu pula, karya-karya foto Edy tersimpan rapi di dokumentasi pribadinya. Tidak banyak orang yang bisa melihatnya. Sebagai fotografer profesional dengan karya yang layak disajikan ke publik, tentunya Edy mempunyai keinginan untuk berbagi. Hingga akhirnya, muncul kumpulan karya foto Edy Purnomo melalui sebuah buku berjudul <em>Passing</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1306" class="wp-caption aligncenter" style="width: 910px"><a href="http://www.seribukata.com/2012/10/passing-pencarian-cahaya-dan-warna-edy-purnomo/ed3-2/" rel="attachment wp-att-1306"><img class="size-full wp-image-1306" title="ED3" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/10/ED3.jpg" alt="" width="900" height="586" /></a><p class="wp-caption-text">LHOKNGA, ACEH BESAR, INDONESIA-JANUARY 21, 2005: A cow ready to sacrifice to celebrate Eid_Adha.</p></div>
<p>Melalui Passing, Edy Purnomo mencoba memaknai perjalanan karir fotografinya. Kurun waktu itu adalah sebuah perlintasan dari masa lalu menuju ke masa yang akan datang. Perjalanan yang penuh warna tentunya.<br />
Halaman per halaman buku diisi oleh permainan warna dan cahaya, ditambahi unsur manusia, yang sesuai judul bukunya, melintasi bingkai foto. Dan tampaknya, merah dan biru adalah warna favorit Edy Purnomo.</p>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1307" class="wp-caption aligncenter" style="width: 910px"><a href="http://www.seribukata.com/2012/10/passing-pencarian-cahaya-dan-warna-edy-purnomo/ed4/" rel="attachment wp-att-1307"><img class="size-full wp-image-1307" title="ED4" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/10/ED4.jpg" alt="" width="900" height="602" /></a><p class="wp-caption-text">Banda island, Indonesia 2009</p></div>
<p>Kehadiran buku Passing karya Edy Purnomo tentu saja menambah daftar pustaka buku foto karya anak negeri. Saat ini, menerbitkan sebuah buku, khususnya buku foto adalah sebuah keberanian. Bukan karena kualitas karya foto yang kurang, namun lebih pada faktor teknis yaitu permodalan. Menerbitkan buku foto secara pribadi, tanpa sponsor, bisa dikatakan adalah sebuah perjuangan yang berat, karena besarnya dana yang dibutuhkan. Edy Purnomo mencoba menyiasati ongkos biaya produksi buku foto tersebut dengan mendesain buku dengan format kompak berdimensi 14&#215;16 sentimeter. Meski mungil, gambar yang tersaji tetap dapat dinikmati karena Edy Purnomo cukup mahir memenuhi bingkai gambar dengan komposisi cahaya dan warna yang saling melengkapi.</p>
<p>Menerbitkan buku foto adalah impian fotografer, dan Edy Purnomo telah mewujudkan impiannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>(Yuniadhi Agung &#8211; Pewarta foto Harian Kompas, co-founder Seribukata.com)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Undangan : </em></p>
<ul>
<li><em>Peluncuran dan diskusi buku Passing karya Edy Purnomo, Sabtu 13 Oktober 2012, pukul 16.00, lobi Kuningan City ( di samping Mall Ambassador )</em></li>
<li><em>Fotografi yang Inklusif , Membangun Apresisasi Fotojurnalistik Massa Depan, Kamis, 18 Oktober 2012, pukul 18.00 WIB, lobi Kuningan City ( di samping Mall Ambassador )</em></li>
</ul>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.seribukata.com%2F2012%2F10%2Fpassing-pencarian-cahaya-dan-warna-edy-purnomo%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.seribukata.com/2012/10/passing-pencarian-cahaya-dan-warna-edy-purnomo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Twilight, an Ongoing Project</title>
		<link>http://www.seribukata.com/2012/09/twilight-an-ongoing-project/</link>
		<comments>http://www.seribukata.com/2012/09/twilight-an-ongoing-project/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Sep 2012 02:57:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Seribu Kata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Photo Stories]]></category>
		<category><![CDATA[Dita Alangkara]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>
		<category><![CDATA[Photojournalism]]></category>
		<category><![CDATA[Street]]></category>
		<category><![CDATA[Twilight]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.seribukata.com/?p=1292</guid>
		<description><![CDATA[Twilight merupakan masa hampa, masa transisi diantara dua waktu dan dimensi. Siang menjadi malam, malam menjadi siang, terang menjadi gelap, hitam menjadi putih. Masa manusia beralih dari karakter ke karakter yang lain, dari peran satu ke peran yang lain. Masa dimana pekerja kantor berganti menjadi ayah dan suami, seorang ibu menjadi penyanyi dangdut, supir berganti [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div title="Page 3">
<p>Twilight merupakan masa hampa, masa transisi diantara dua waktu dan dimensi. Siang menjadi malam, malam menjadi siang, terang menjadi gelap, hitam menjadi putih. Masa manusia beralih dari karakter ke karakter yang lain, dari peran satu ke peran yang lain. Masa dimana pekerja kantor berganti menjadi ayah dan suami, seorang ibu menjadi penyanyi dangdut, supir berganti peran menjadi seorang pacar serta jutaan transisi lainnya, yang akan terus berlangsung sampai dunia berhenti berputar.</p>
<p>Jalanan kota besar menyajikan fragmen-fragmen kecil &#8216;twilight&#8217;. Manusia-manusia pada saat mereka berganti peran, meninggalkan tempat kerja mereka untuk pulang ke &#8216;sarang&#8217; masing-masing, mengganti agresifitas dan semangat berkompetisi dengan kasih sayang, meninggalkan sebuah dunia untuk memasuki dunia yang lain. Sebuah kumpulan karya kecil yang tidak akan pernah punya akhir karena transisi itu akan terus terjadi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1293" title="SERIBUKATA_Twilight_DA-1" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/09/SERIBUKATA_Twilight_DA-1.jpg" alt="" width="590" height="417" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1294" title="SERIBUKATA_Twilight_DA-2" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/09/SERIBUKATA_Twilight_DA-2.jpg" alt="" width="590" height="417" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1295" title="SERIBUKATA_Twilight_DA-3" src="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/09/SERIBUKATA_Twilight_DA-3.jpg" alt="" width="590" height="417" /></p>
<p style="text-align: center;"><strong><a title="Download PDF Here" href="http://www.seribukata.com/wp-content/uploads/2012/09/SERIBUKATA_Twilight_DA.pdf" target="_blank">Download Here</a></strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Dita Alangkara </em></strong>was born in Yogyakarta, 15 January 1975. Learning photography since 1994. He began to pursue photography professionally as a freelance photographer in some foreign media between 1998-1999. After that he joined <em>The Associated Press </em>bureau in Jakarta until now. He also co-founder of <a title="www.seribukata.com" href="www.seribukata.com" target="_blank">www.seribukata.com</a></p>
</div>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.seribukata.com%2F2012%2F09%2Ftwilight-an-ongoing-project%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.seribukata.com/2012/09/twilight-an-ongoing-project/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
